You are currently viewing 19 Titik Trotoar di Jakarta Bakal Dibersihkan dari PKL dan Parkir Liar Selama Bulan Ramadan

19 Titik Trotoar di Jakarta Bakal Dibersihkan dari PKL dan Parkir Liar Selama Bulan Ramadan

19 Titik Trotoar di Jakarta Bakal Dibersihkan dari PKL dan Parkir Liar Selama Bulan Ramadan – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menertibkan 19 titik trotoar yang selama ini kerap dipadati pedagang kaki lima (PKL) dan kendaraan parkir liar. Langkah ini akan diberlakukan khusus selama bulan Ramadan guna memastikan kenyamanan pejalan kaki, kelancaran arus lalu lintas, serta menjaga ketertiban ruang publik di ibu kota.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya penataan kota yang berfokus pada fungsi trotoar sebagai fasilitas utama bagi pejalan kaki. Selama ini, sejumlah trotoar di ruas jalan strategis kerap berubah fungsi menjadi area berdagang maupun parkir kendaraan, terutama menjelang waktu berbuka puasa ketika aktivitas masyarakat meningkat.

Alasan Penertiban Trotoar di Jakarta Dilakukan Saat Ramadan

Pemilihan waktu Ramadan bukan tanpa alasan Trotoar di Jakarta. Pemerintah daerah menilai mobilitas masyarakat meningkat signifikan pada bulan puasa, khususnya pada sore hingga malam hari. Aktivitas berburu takjil, berbelanja kebutuhan berbuka, hingga meningkatnya perjalanan menuju masjid membuat trotoar harus benar-benar steril agar aman dilalui.

Selain itu, kondisi trotoar yang dipenuhi lapak dan kendaraan sering memaksa pejalan kaki turun ke badan jalan. Situasi ini berpotensi menimbulkan kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, penertiban dianggap sebagai langkah preventif demi keselamatan publik.

Titik Lokasi yang Menjadi Prioritas

Sebanyak 19 lokasi telah dipetakan sebagai area prioritas penertiban. Umumnya titik-titik tersebut berada di kawasan padat aktivitas seperti pusat perniagaan, jalur transportasi umum, dan wilayah dengan konsentrasi pedagang musiman. Pemerintah menyebut penentuan lokasi dilakukan berdasarkan laporan masyarakat serta hasil pemantauan lapangan oleh petugas.

Penertiban akan melibatkan berbagai unsur, termasuk Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan aparat kewilayahan. Sinergi lintas instansi ini diharapkan mampu memastikan pelaksanaan berjalan tertib tanpa menimbulkan konflik di lapangan.

Pendekatan Persuasif kepada PKL

Meski penertiban dilakukan secara tegas, pemerintah menegaskan pendekatan persuasif tetap diutamakan. Para pedagang kaki lima akan diberikan sosialisasi terlebih dahulu mengenai aturan penggunaan trotoar dan larangan berjualan di area tersebut. Mereka juga diarahkan untuk menempati lokasi alternatif yang telah disediakan pemerintah, seperti sentra kuliner binaan atau area berdagang sementara.

Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan tidak dianggap merugikan pelaku usaha kecil. Pemerintah ingin memastikan bahwa penataan kota tetap berjalan tanpa menghilangkan kesempatan masyarakat mencari nafkah selama Ramadan.

Harapan Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap penertiban trotoar ini dapat menciptakan suasana Ramadan yang lebih nyaman, tertib, dan aman bagi seluruh warga. Trotoar yang bersih dari hambatan diharapkan mendorong budaya berjalan kaki serta meningkatkan kualitas ruang publik.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau ikut berperan aktif dengan tidak memarkir kendaraan sembarangan dan mematuhi aturan penggunaan fasilitas umum. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini, karena penataan kota tidak bisa hanya mengandalkan aparat semata.

Langkah pembersihan 19 titik trotoar ini dipandang sebagai ujian konsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan tata ruang. Jika berhasil, kebijakan serupa berpotensi diterapkan secara permanen bahkan diperluas ke wilayah lain setelah Ramadan berakhir. Dengan demikian, penertiban tidak hanya menjadi program musiman, tetapi bagian dari transformasi Jakarta menuju kota yang lebih ramah pejalan kaki https://npcdesy.com/.

Leave a Reply