Tuntut Keadilan bagi Warga Palestina di Gaza – Ribuan demonstran pro-Palestina kembali memadati salah satu ruas jalan utama di Sydney, Australia, pada Minggu, 22 Februari 2026. Aksi ini menjadi bagian dari gelombang solidaritas global yang terus menyerukan penghentian serangan militer Israel di wilayah Gaza serta menuntut keadilan bagi warga Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan.
Suasana aksi berlangsung penuh semangat namun tetap damai. Para peserta membawa bendera Palestina, poster bertuliskan seruan gencatan senjata, serta spanduk yang mendesak komunitas internasional agar tidak tinggal diam melihat penderitaan warga sipil di Gaza. Orasi demi orasi disampaikan oleh aktivis kemanusiaan, tokoh masyarakat, hingga perwakilan organisasi mahasiswa yang menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Gelombang Solidaritas yang Terus Menguat
Aksi di Sydney bukanlah yang pertama. Sejak konflik memanas pada Oktober 2023, berbagai kota besar di Australia secara rutin menjadi lokasi demonstrasi pro-Palestina. Para pengunjuk rasa menilai bahwa situasi di Gaza telah mencapai titik krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan.
Mereka menuntut dihentikannya operasi militer yang dinilai telah menyebabkan korban sipil dalam jumlah besar. Selain itu, demonstran juga mendesak pemerintah Australia untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam mendorong terciptanya gencatan senjata permanen serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan.
Solidaritas ini tidak hanya datang dari komunitas Palestina, tetapi juga dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Banyak warga Australia yang merasa terpanggil secara moral untuk bersuara, mengingat dampak konflik yang dirasakan oleh perempuan, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya di Gaza.
Studi The Lancet Global Health Ungkap Angka Korban Lebih Tinggi
Di tengah gelombang protes tersebut, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet Global Health menambah sorotan terhadap dampak perang di Gaza. Studi tersebut mengungkap bahwa jumlah korban tewas selama 15 bulan pertama operasi militer Israel sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 75.000 orang.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan laporan resmi otoritas kesehatan Gaza yang sebelumnya mencatat sekitar 49.000 kematian. Perbedaan signifikan ini memicu diskusi luas mengenai metodologi pencatatan korban serta kemungkinan adanya korban yang belum terdata secara resmi.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap sekitar 2.000 rumah tangga di berbagai wilayah Gaza sejak 30 Desember 2024. Dengan pendekatan survei rumah tangga, para peneliti berupaya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak langsung dan tidak langsung dari konflik bersenjata yang berlangsung.
Kematian Tidak Langsung dan Runtuhnya Sistem Kesehatan
Selain korban akibat serangan langsung, studi tersebut juga memperkirakan terdapat sekitar 16.300 kematian tidak langsung dalam periode yang sama. Kematian tidak langsung ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit menular, kondisi medis kronis yang tidak tertangani, serta runtuhnya sistem layanan kesehatan akibat perang.
Fasilitas kesehatan yang rusak, keterbatasan obat-obatan, kurangnya tenaga medis, serta gangguan pasokan listrik dan air bersih menjadi tantangan besar bagi warga Gaza. Banyak pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, gagal ginjal, atau penyakit jantung tidak dapat memperoleh perawatan rutin yang mereka butuhkan.
Kondisi ini memperburuk situasi kemanusiaan dan menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya terlihat dari ledakan dan serangan bersenjata, tetapi juga dari efek jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat.
Seruan Keadilan dan Gencatan Senjata Permanen
Bagi para demonstran di Sydney, data terbaru tersebut semakin memperkuat tuntutan mereka agar konflik segera dihentikan. Mereka menilai bahwa jumlah korban yang begitu besar merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan oleh dunia internasional.
Seruan keadilan yang digaungkan tidak hanya mencakup penghentian serangan, tetapi juga perlindungan terhadap warga sipil, akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta upaya diplomatik untuk mencapai solusi damai yang berkelanjutan.
Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa konflik di Gaza memiliki dampak global, memicu respons dan solidaritas dari berbagai penjuru dunia. Ribuan orang yang turun ke jalan di Sydney menunjukkan bahwa isu kemanusiaan melampaui batas negara dan politik.
Dengan situasi yang masih terus berkembang, tekanan dari masyarakat sipil di berbagai negara diperkirakan akan terus berlanjut. Harapan terbesar para demonstran adalah terciptanya perdamaian yang adil dan bermartabat, sehingga warga Palestina di Gaza dapat kembali menjalani kehidupan yang aman, sehat, dan penuh harapan di masa depan. Tuna55