You are currently viewing Pengakuan Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidikalang: Tempe Bau, Nasi Lembek dan Berair

Pengakuan Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidikalang: Tempe Bau, Nasi Lembek dan Berair

Pengakuan Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidikalang: Tempe Bau, Nasi Lembek dan Berair Kasus dugaan keracunan massal yang diduga berasal dari menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, terus menjadi sorotan. Jumlah korban bertambah, sementara kesaksian para siswa yang terdampak menggambarkan kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.

Beberapa siswa yang menjalani perawatan akhirnya angkat bicara mengenai menu yang mereka santap sebelum mengalami gejala keracunan. Syela Ramadhani dan Laila Tarigan, siswi SMK Arina Sidikalang, menceritakan pengalaman mereka saat menyantap makanan tersebut.

Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, tempe, tauge, dan ikan tongkol. Namun menurut keduanya, kualitas makanan jauh dari standar yang seharusnya.

“Tempenya baunya tidak enak dan rasanya pahit saat dibelah. Nasinya juga lembek dan berair. Tauge seperti belum matang atau sudah lama disimpan. Ikan tongkolnya pun kering,” ujar Syela dengan wajah pucat sambil memegang kantong plastik karena masih merasa mual.

Laila menambahkan bahwa beberapa temannya juga mengeluhkan rasa makanan yang aneh sejak awal. Namun karena makanan tersebut bagian dari program resmi, banyak siswa tetap mengonsumsinya.

Gejala Muncul di Dalam Kelas

Kepala Sekolah SMK Arina, Herman Sitorus, menjelaskan bahwa gejala pertama kali muncul pada Rabu pagi di salah satu ruang kelas XI jurusan Kecantikan. Beberapa siswa tiba-tiba mengeluhkan pusing, mual, dan muntah.

Tak lama kemudian, jumlah siswa yang mengalami keluhan serupa terus bertambah. Hingga saat ini, sebanyak 16 siswa SMK Arina dilaporkan menjalani perawatan medis.

Ironisnya, insiden ini terjadi pada hari pertama distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palapa kepada sekolah tersebut.

“Kejadiannya sangat cepat. Awalnya satu dua siswa merasa tidak enak badan, lalu menyusul yang lain,” kata Herman.

Diagnosis Awal: Keracunan Makanan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, dr. Henry Manik, menyampaikan bahwa berdasarkan pemeriksaan medis awal, para siswa diduga mengalami keracunan makanan.

Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, diare, hingga pusing berat. Sebagian korban dirawat di Puskesmas Huta Rakyat, sementara lainnya dirujuk ke RSUD Sidikalang dan RS Serenapita untuk penanganan lebih lanjut.

“Gejala klinis yang muncul mengarah pada keracunan makanan. Kami masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya,” ujar dr. Henry.

Ia juga memastikan bahwa kondisi para siswa terus dipantau oleh tenaga medis dan sebagian besar dalam keadaan stabil meskipun masih memerlukan observasi intensif.

Jumlah Korban Bertambah

Hingga Rabu (11/2/2026), jumlah siswa yang terdampak mencapai 170 orang dan masih berpotensi bertambah. Sebelumnya, sebanyak 154 siswa dari SMK HKBP Sidikalang telah lebih dulu dilarikan ke fasilitas kesehatan dengan keluhan serupa.

Kini, tambahan korban berasal dari SMK Arina dan sejumlah siswa dari SMA HKBP yang mulai berdatangan ke instalasi gawat darurat.

“Kemarin 154 siswa dari SMK HKBP. Hari ini bertambah 14 dari SMK Arina. Kami juga memantau adanya siswa dari SMA HKBP yang mulai masuk ke IGD,” jelas dr. Henry saat melakukan pemantauan langsung di rumah sakit.

Investigasi Kualitas Makanan

Pihak berwenang kini tengah menyelidiki proses pengolahan dan distribusi makanan dalam program MBG tersebut. Sampel makanan telah diambil untuk diuji di laboratorium guna memastikan apakah terdapat kontaminasi bakteri atau kesalahan dalam penyimpanan dan pengolahan.

Insiden ini memicu kekhawatiran orang tua siswa yang menuntut transparansi serta evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan.

Program Makan Bergizi Gratis sejatinya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi pelajar. Namun kejadian di Sidikalang menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan pangan.

Pemerintah daerah berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dan memastikan kejadian serupa tidak terulang. Sementara itu, para siswa korban masih menjalani perawatan dengan harapan dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tuna55

Leave a Reply