You are currently viewing Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Satu Korban Jiwa

Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Satu Korban Jiwa

Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Satu Korban Jiwa Satu orang dilaporkan meninggal dunia setelah sebuah pesawat nirawak militer Israel menyerang sebuah kendaraan di kawasan Lebanon bagian selatan pada Kamis (13/2/2026). Peristiwa tersebut kembali menambah daftar insiden yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak yang sebelumnya telah disepakati.

Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan dilakukan dengan meluncurkan tiga rudal berpemandu yang diarahkan langsung ke kendaraan di Distrik Bint Jbeil, wilayah Provinsi Nabatieh. Korban jiwa dilaporkan berada di dalam mobil yang menjadi target tembakan tersebut, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri saat serangan terjadi.

Pihak militer Israel mengungkapkan bahwa operasi itu ditujukan kepada seseorang yang mereka klaim sebagai anggota kelompok Hizbullah. Meski demikian, hingga kini belum terdapat verifikasi independen yang memastikan identitas korban ataupun keterkaitannya dengan kelompok tersebut. Informasi awal mengenai klaim tersebut dikutip dari laporan media internasional pada Jumat (13/2).

Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan

Insiden serangan drone ini terjadi saat situasi keamanan di kawasan perbatasan masih sangat rentan. Banyak pihak menilai peristiwa tersebut mencerminkan rapuhnya kesepakatan penghentian permusuhan yang disepakati pada akhir November 2024. Sejak kesepakatan itu berlaku, kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.

Israel menyatakan bahwa operasi militer terbatas tetap dilakukan dengan alasan menargetkan fasilitas atau infrastruktur yang mereka sebut berkaitan dengan Hizbullah di wilayah Lebanon. Pemerintah Israel menegaskan tindakan tersebut merupakan langkah defensif guna mencegah ancaman keamanan dari kelompok bersenjata di perbatasan utara mereka.

Sebaliknya, otoritas Lebanon memandang serangan seperti ini sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata. Mereka menilai operasi militer lintas batas, terutama yang menimbulkan korban jiwa, tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan komitmen penghentian konflik.

Data dari pihak Lebanon menyebutkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan, ratusan warga sipil dilaporkan menjadi korban, baik meninggal dunia maupun mengalami luka-luka akibat serangan yang masih terjadi secara berkala. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa situasi di kawasan belum benar-benar stabil.

Selain itu, Israel juga disebut masih mempertahankan posisi militernya di lima titik puncak bukit strategis di wilayah Lebanon selatan yang dikuasai dalam konflik terbaru. Keberadaan pasukan di area tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan, di samping sejumlah wilayah perbatasan lain yang sejak lama menjadi sengketa antara kedua negara.

Konflik Berkepanjangan dan Dampaknya

Ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah sebenarnya telah meningkat sejak Oktober 2023, ketika operasi militer mulai dilakukan di sepanjang garis perbatasan. Ketegangan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik berskala besar pada September 2024, yang menyebabkan kerusakan luas serta korban jiwa dalam jumlah signifikan.

Berdasarkan catatan otoritas Lebanon, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan menyebabkan sekitar 17.000 lainnya mengalami luka-luka. Angka tersebut mencerminkan besarnya dampak kemanusiaan yang ditimbulkan oleh pertempuran berkepanjangan di wilayah tersebut.

Serangan drone terbaru ini kembali menegaskan bahwa situasi keamanan di Lebanon selatan masih jauh dari kata stabil. Walaupun secara resmi terdapat kesepakatan penghentian permusuhan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa potensi eskalasi konflik tetap tinggi. Banyak pengamat menilai bahwa tanpa mekanisme pengawasan dan penegakan yang kuat, gencatan senjata berisiko hanya menjadi kesepakatan di atas kertas.

Peristiwa ini juga memperlihatkan betapa sensitifnya dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah, di mana satu insiden kecil dapat memicu ketegangan yang lebih luas. Dengan kondisi seperti ini, komunitas internasional terus didorong untuk meningkatkan upaya diplomatik guna mencegah konflik kembali meluas dan menimbulkan korban tambahan di masa mendatang. Tuna55

Leave a Reply