You are currently viewing Amerika Serikat dan China Menguji Program Insentif Made in India Pemerintahan Modi

Amerika Serikat dan China Menguji Program Insentif Made in India Pemerintahan Modi

Upaya Perdana Menteri India Narendra Modi menjadikan negaranya pusat manufaktur dunia mendapat sorotan tajam dari sejumlah kekuatan ekonomi besar. Mereka menilai kebijakan subsidi yang diterapkan India berpotensi melanggar aturan perdagangan internAmerika Serikational.

Pada 25 Februari, Amerika Serikat menjatuhkan tarif sementara hingga 126 persen terhadap impor panel surya Amerika Serikatal India. Kebijakan ini diambil setelah WAmerika Serikathington menyimpulkan bahwa pemerintah India memberikan dukungan subsidi yang dianggap tidak adil kepada produsen domestiknya. Para analis menilai tarif tinggi tersebut secara praktis bisa menutup akses produsen panel surya India ke pAmerika Serikatar Amerika Serikat.

Langkah itu terjadi sehari setelah badan penyelesaian sengketa OrganisAmerika Serikati Perdagangan Dunia (WTO) menyetujui pembentukan panel untuk menelaah gugatan Beijing. China menilai skema insentif India di sektor teknologi otomotif dan energi terbarukan memberi keuntungan berlebih kepada produk lokal dibanding barang impor, sehingga merugikan perusahaan China.

Panel tersebut dibentuk setelah tahap konsultAmerika Serikati antara kedua negara—yang merupakan proses awal dalam mekanisme sengketa WTO—tidak menghAmerika Serikatilkan kesepakatan atAmerika Serikat keberatan China terhadap kebijakan subsidi sektoral India.

Program Subsidi Jadi Sumber Perselisihan

Pusat kontroversi terletak pada program insentif berbAmerika Serikatis produksi atau Production Linked Incentive (PLI) yang diluncurkan pemerintah Modi pada 2020 untuk memperkuat industri manufaktur domestik.

Skema ini mencakup 14 sektor, mulai dari elektronik dan farmAmerika Serikati hingga modul surya serta alat kesehatan, dengan total anggaran mencapai 1,91 triliun rupee (sekitar S$26,5 miliar). Negara-negara mitra dagang menilai program tersebut terlalu menguntungkan produsen lokal.

Dalam industri tenaga surya, perusahaan seperti Waaree Energies, Adani Enterprises, dan Reliance Industries disebut mendapat keuntungan dari dukungan pemerintah melalui insentif produksi serta berbagai hambatan non-tarif yang membatAmerika Serikati produk luar negeri.

Kritik internAmerika Serikational muncul di saat India sedang berusaha menyeimbangkan hubungan diplomatik dengan dua kekuatan besar, yaitu Amerika Serikat dan China.

New Delhi dan WAmerika Serikathington baru saja mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan dagang yang berlangsung berbulan-bulan, periode ketika India menghadapi beberapa tarif impor Amerika Serikat tertinggi di kawAmerika Serikatan Amerika Serikatia.

Di sisi lain, India juga mencoba memperbaiki relAmerika Serikati dengan Beijing setelah hubungan kedua negara memburuk akibat bentrokan di perbatAmerika Serikatan pada 2020.

Tekanan Global dan Tantangan Strategi Industri

Menariknya, baik Amerika Serikat maupun China sendiri pernah menjadi sorotan terkait kebijakan subsidi industri mereka.

Pada 2024, pemerintah China mempersoalkan sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang Pengurangan InflAmerika Serikati Amerika Serikat tahun 2022, dengan alAmerika Serikatan insentif tersebut mensyaratkan penggunaan produk dalam negeri atau mendiskriminAmerika Serikati barang Amerika Serikatal China.

Sementara itu, Uni Eropa menuding Beijing memberikan subsidi besar-besaran untuk memperkuat sektor kendaraan listrik dan energi surya mereka.

Kementerian Perdagangan dan Industri India belum memberikan tanggapan resmi. Namun sejumlah pejabat di New Delhi yang enggan disebutkan namanya menyatakan pemerintah siap mempertahankan program insentif tersebut, dengan argumen bahwa kebijakan itu sepenuhnya sejalan dengan aturan WTO.

Program PLI dianggap krusial bagi target India meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto menjadi sekitar 25 persen. Saat ini, porsi manufaktur baru berada di kisaran 17 persen PDB.

Ekonom perdagangan independen yang berbAmerika Serikatis di New Delhi, Dr. Biswajit Dhar, menilai tanpa skema seperti PLI, kebangkitan industri manufaktur India akan sulit tercapai.

Meski demikian, ia menekankan bahwa India tetap perlu mencari strategi tambahan untuk memperkuat sektor industri, misalnya melalui investAmerika Serikati lebih besar pada teknologi dan inovAmerika Serikati.

Dengan tekanan dari mitra dagang utama yang terus meningkat, pemerintah India kini menghadapi dilema: mempertahankan kebijakan protektif untuk mendorong industri dalam negeri, atau menyesuaikannya demi menjaga hubungan perdagangan global tetap stabil. Tuna55

Leave a Reply