Kondisi Pascabencana Aceh: 5 SPBU Belum Beroperasi, Listrik Sudah 99,9% – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh, menimbulkan kerusakan infrastruktur vital seperti jaringan listrik, jalan, dan fasilitas distribusi energi. Pemerintah pusat melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana langsung melakukan koordinasi untuk memastikan pemulihan berjalan cepat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa kondisi penyaluran energi di wilayah terdampak kini sudah berangsur membaik, meski belum sepenuhnya pulih di semua daerah.
Progres Pemulihan Energi Secara Umum Kondisi Pascabencana Aceh
Kondisi Pascabencana Aceh Pemulihan pasokan energi menjadi prioritas utama pemerintah karena berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat. Dalam rapat koordinasi dengan DPR, dilaporkan bahwa distribusi BBM, LPG, dan listrik di wilayah terdampak terus menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah menilai tren pemulihan ini sebagai sinyal bahwa upaya rehabilitasi berjalan sesuai rencana dan koordinasi antarinstansi berjalan efektif.
Selain itu, sebagian besar wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat bahkan sudah mencapai tingkat operasional energi 100 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan di Aceh bukanlah kondisi stagnan, melainkan bagian dari proses bertahap yang berbeda di setiap daerah tergantung tingkat kerusakan.
Kondisi Distribusi BBM dan SPBU
Untuk sektor bahan bakar, jaringan SPBU di dua provinsi tetangga Aceh telah beroperasi penuh. Namun di Aceh sendiri masih ada lima SPBU yang belum dapat beroperasi. Pemerintah menyebut sekitar 97 persen SPBU di provinsi tersebut sudah aktif, sementara lima unit sisanya masih memerlukan perhatian khusus.
Meski demikian, distribusi LPG dilaporkan telah pulih sepenuhnya. Seluruh agen di wilayah terdampak sudah kembali menyalurkan gas kepada masyarakat sehingga kebutuhan dapur rumah tangga dapat terpenuhi.
Kendala Infrastruktur di Lapangan
Hambatan utama pemulihan energi di Aceh bukan terletak pada pasokan, melainkan akses infrastruktur. Di Kabupaten Aceh Tengah, misalnya, distribusi listrik masih terganggu karena jalan rusak parah bahkan berubah menjadi aliran sungai akibat bencana. Kondisi ini menyebabkan jaringan listrik putus sehingga perbaikan membutuhkan waktu dan logistik tambahan.
Sebagai solusi sementara, pemerintah menyalurkan generator atau genset ke wilayah terdampak agar masyarakat tetap dapat menggunakan listrik meski jaringan utama belum sepenuhnya tersambung.
Status Pemulihan Listrik
Secara keseluruhan, tingkat pemulihan listrik di Aceh telah mencapai sekitar 99,9 persen. Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah sudah kembali menikmati aliran listrik, meskipun masih ada beberapa titik yang belum tersambung akibat kerusakan fisik jaringan.
Sebelumnya, pemerintah juga melaporkan bahwa puluhan desa sempat belum dialiri listrik karena kerusakan jaringan distribusi, tetapi perbaikan terus dilakukan hingga sebagian besar desa kembali menyala.
Peran Pemerintah dan Lembaga Terkait
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah memerintahkan percepatan pemulihan listrik di wilayah terdampak bencana Sumatera, termasuk Aceh. Instruksi tersebut menekankan pentingnya pemulihan cepat untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Langkah ini kemudian ditindaklanjuti oleh kementerian dan BUMN terkait seperti PLN dan Pertamina dengan mengerahkan tim teknis, memperbaiki jaringan, serta memastikan distribusi energi tetap berjalan meskipun akses logistik sulit.
Dampak terhadap Kehidupan Masyarakat
Pulihnya pasokan energi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan warga. Listrik memungkinkan aktivitas ekonomi kembali berjalan, sementara BBM dan LPG mendukung mobilitas serta kebutuhan rumah tangga. Dengan tingkat pemulihan listrik hampir 100 persen dan mayoritas SPBU sudah aktif, masyarakat mulai merasakan tanda-tanda normalisasi kondisi pascabencana.
Tantangan yang Masih Tersisa
Walaupun progres pemulihan tergolong cepat, tantangan tetap ada. Infrastruktur jalan yang rusak berat memperlambat distribusi logistik dan perbaikan jaringan. Selain itu, wilayah terpencil dengan akses sulit membutuhkan penanganan khusus agar pemulihan benar-benar merata.
Secara umum, kondisi pascabencana di Aceh menunjukkan perkembangan signifikan. Sebagian besar fasilitas energi telah kembali beroperasi, listrik sudah pulih hingga sekitar 99,9 persen, dan hanya lima SPBU yang masih belum beroperasi. Situasi ini mencerminkan efektivitas koordinasi pemerintah dan lembaga terkait dalam menangani dampak bencana, sekaligus menandakan bahwa fase darurat telah beralih menuju tahap pemulihan dan normalisasi kehidupan masyarakat Tuna55.