Sepanjang sebagian besar perjalanan sejarah Asia, kekuatan sering kali diukur dari kemampuan militer. Dari ekspansi besar-besaran Kekaisaran Mongol di bawah Genghis Khan hingga konflik ideologi dan perebutan wilayah pada abad ke-20, dominasi senjata menjadi penentu siapa yang berkuasa dan siapa yang harus tunduk. Warisan sejarah tersebut masih memengaruhi dinamika politik kawasan hingga hari ini.
Berita-berita utama di Asia masih kerap dipenuhi laporan uji coba rudal, ketegangan perbatasan, dan pengerahan pasukan. Perselisihan wilayah antara Thailand dan Kamboja, tekanan China di Laut China Selatan, serta konflik berulang antara India dan Pakistan menunjukkan bahwa kekuatan militer atau hard power tetap memegang peranan penting. Namun, di balik gambaran tersebut, muncul realitas lain yang semakin nyata: meskipun kekuatan militer dapat menentukan batas konflik, justru soft power sering menentukan apakah ketegangan meningkat, berapa lama krisis berlangsung, dan seberapa besar dampak ekonominya.
Pemerintah Mulai Menyadari Perubahan Kekuatan Militer
Pemerintah di berbagai negara Asia mulai menyadari perubahan ini. Mereka semakin gencar membangun reputasi internasional, memperluas jaringan diplomatik, serta memperkuat pengaruh budaya. Upaya ini bukan sekadar idealisme, melainkan strategi yang rasional. Dalam kawasan yang ekonominya saling terhubung erat, dominasi mutlak melalui kekuatan militer bukan hanya sulit dicapai, tetapi juga sangat mahal. Karena itu, kemampuan memengaruhi negara lain melalui persuasi, daya tarik, dan legitimasi kini menjadi aset strategis yang tak kalah penting dari kekuatan senjata.
Contoh nyata dapat dilihat pada ketegangan perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang telah berlangsung berulang kali. Solusi militer tidak pernah menjadi pilihan realistis. Penggunaan kekuatan bersenjata tidak memberikan keuntungan jangka panjang dan justru berpotensi menimbulkan kerugian politik serta ekonomi yang besar. Ketika bentrokan terjadi di sekitar Kuil Preah Vihear, eskalasi konflik berhasil diredam bukan karena superioritas militer salah satu pihak, melainkan berkat mediasi ASEAN dan mekanisme hukum internasional.
Pendekatan tersebut efektif karena kedua negara sadar bahwa tindakan mereka akan dinilai oleh negara tetangga, investor asing, serta wisatawan internasional. Kekhawatiran terhadap reputasi dan posisi regional inilah yang menunjukkan pentingnya soft power. Walaupun sengketa belum sepenuhnya selesai, faktor legitimasi berhasil memengaruhi keputusan politik dan mendorong kedua pihak menjauh dari kemungkinan perang terbuka.
Fenomena serupa juga terlihat di Laut China Selatan. China memiliki keunggulan militer dibanding sebagian besar negara pengklaim wilayah. Negara itu menggunakan kapal penjaga pantai, milisi maritim, serta pembangunan infrastruktur militer untuk menegaskan klaimnya. Ini merupakan contoh nyata penggunaan hard power dalam bentuk paling langsung.
Namun, efektivitasnya ternyata terbatas. Alih-alih membuat negara lain menyerah, langkah tersebut justru mendorong negara-negara Asia Tenggara menginternasionalkan sengketa, memperkuat argumen hukum, menjalin kemitraan keamanan, dan mencari dukungan diplomatik dari kekuatan global lain. Situasi ini memperlihatkan dengan jelas batas kemampuan tekanan militer serta konsekuensi strategis dari mengutamakan kekuatan keras dibanding pendekatan lunak.
Di Asia Selatan, dinamika ini bahkan lebih berbahaya. India dan Pakistan sama-sama memiliki kekuatan militer besar, termasuk senjata nuklir. Berbagai krisis, mulai dari bentrokan perbatasan hingga konfrontasi udara, menunjukkan bahwa kekuatan militer memang dapat mencegah perang total, tetapi tidak mampu menciptakan keamanan jangka panjang.
Sebaliknya, momen-momen penahanan diri yang dipengaruhi opini internasional, kepentingan ekonomi, dan citra global sering kali lebih menentukan daripada unjuk kekuatan militer. Ketika terdapat kerja sama perdagangan, hubungan masyarakat lintas negara, atau mekanisme pembangunan kepercayaan meskipun terbatas, risiko salah perhitungan dapat ditekan jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan pengerahan pasukan. Kekurangan soft power terbukti membawa konsekuensi nyata, baik secara strategis maupun ekonomi.
Perbedaan antara kekuatan keras dan lunak juga penting bagi dunia investasi. Indeks Soft Power Global yang baru diluncurkan di Davos menegaskan bahwa persepsi tentang kredibilitas, tata kelola, dan keandalan suatu negara dapat memengaruhi pasar serta sentimen investor. Kekuatan militer mungkin mampu mencegah kekalahan, tetapi jarang menghasilkan legitimasi. Dalam ekonomi Asia yang saling terintegrasi, legitimasi justru menjadi fondasi keberlanjutan kebijakan, kepastian regulasi, dan manajemen krisis—faktor yang sangat menentukan bagi stabilitas pasar.
Sejumlah negara Asia telah menerapkan logika ini secara aktif. Korea Selatan, misalnya, berhasil mengubah pengaruh budaya menjadi modal strategis. Film, drama televisi, dan musik K-pop yang mendunia didukung penuh oleh kebijakan negara melalui lembaga khusus yang mempromosikan “Gelombang Korea”. Bahkan program kompetisi memasak seperti Culinary Class Wars di Netflix mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi restoran di Korea. Hasilnya, negara tersebut dipersepsikan sebagai bangsa inovatif dan terbuka, bukan ancaman.
Jepang sudah lebih dulu memanfaatkan strategi serupa melalui anime, manga, musik J-pop, serta industri gim yang memiliki basis penggemar global. Selain budaya populer, Jepang juga memperkuat pengaruhnya lewat bantuan pembangunan, penetapan standar regional, dan diplomasi perdagangan. Pendanaan jangka panjang untuk pembangunan rel kereta, pelabuhan, serta sistem digital di Asia Tenggara bahkan sudah dilakukan jauh sebelum inisiatif Sabuk dan Jalan China. Investasi ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga memperluas pengaruh geopolitik Jepang secara halus.
India juga mengandalkan pendekatan soft power melalui diaspora globalnya, infrastruktur digital publik, dan diplomasi budaya. Komunitas diaspora India yang berjumlah sekitar 32 juta orang mencakup tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk pimpinan perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, dan Adobe. Pengaruh individu-individu ini menciptakan jaringan pengaruh global yang memperkuat posisi India tanpa perlu mengandalkan kekuatan militer.
China juga Mengalami Perubahan Kekuatan Militer
Bahkan China, meskipun menghadapi skeptisisme internasional yang meningkat, tetap berinvestasi besar dalam pembiayaan pembangunan dan proyek pendidikan di berbagai negara. Langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa akses dan pengaruh sering kali lebih efektif diperoleh melalui daya tarik dan kerja sama daripada tekanan. Upaya tersebut berjalan berdampingan dengan modernisasi militer, bukan sebagai kontradiksi, melainkan sebagai pelengkap strategi nasional.
Bagi perusahaan, kondisi geopolitik ini menghadirkan peluang sekaligus risiko. Dunia usaha kini beroperasi di persimpangan antara politik internasional, ekonomi global, dan opini publik. Negara yang dipandang bertanggung jawab dan dapat diprediksi akan menciptakan lingkungan bisnis yang lebih aman bagi perusahaan mereka di luar negeri—mulai dari hambatan regulasi yang lebih rendah hingga tingkat kepercayaan konsumen yang lebih tinggi. Sebaliknya, negara yang diasosiasikan dengan tekanan atau ketidakstabilan dapat menimbulkan risiko reputasi, hukum, dan pasar bagi perusahaan nasionalnya sendiri.
Semua ini tidak berarti Asia dapat sepenuhnya meninggalkan kekuatan militer. Hard power tetap penting untuk mencegah agresi dan menghadapi skenario terburuk. Namun, ketika kekuatan militer menjadi satu-satunya fokus strategi, volatilitas meningkat dan pasar pun terdampak. Soft power bekerja dengan cara berbeda: ia membentuk ekspektasi, menurunkan tingkat ketegangan dasar, dan menyediakan jalan keluar ketika krisis muncul.
Pada akhirnya, negara-negara Asia memiliki dua pilihan. Mereka bisa terus mengukur kekuatan dari kemampuan mengancam, atau menyadari bahwa di kawasan yang dipenuhi senjata nuklir dan saling bergantung secara ekonomi, ukuran kekuatan yang sebenarnya adalah kredibilitas, pengendalian diri, serta daya tarik. Pelajaran ini tidak hanya berlaku di Asia, tetapi juga di seluruh dunia. Konflik yang terlihat saat ini bukanlah bukti bahwa soft power tidak penting; justru sebaliknya, konflik tersebut menegaskan betapa mendesaknya kebutuhan akan pendekatan tersebut dalam menjaga stabilitas global. Tuna55