You are currently viewing Raksasa Nikel Indonesia Vale Percepat Langkah ke Produksi Bahan Baterai Kendaraan Listrik

Raksasa Nikel Indonesia Vale Percepat Langkah ke Produksi Bahan Baterai Kendaraan Listrik

Perusahaan tambang nikel besar di Indonesia, Vale Indonesia, tengah mempercepat transformasi strategisnya dengan menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk mengembangkan produksi nikel kelas baterai. Langkah ambisius ini menunjukkan keyakinan perusahaan bahwa permintaan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel akan tetap kuat dalam jangka panjang, meskipun baterai lithium iron phosphate (LFP) semakin populer di pasar global.

Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia, Abu Ashar, menegaskan bahwa perusahaan tetap optimistis terhadap prospek baterai berbasis nikel karena memiliki keunggulan seperti kepadatan energi yang lebih tinggi, daya tahan lebih lama, serta siklus penggunaan yang lebih panjang. Menurutnya, baterai nikel dan baterai LFP bukanlah pesaing mutlak, melainkan akan hidup berdampingan karena masing-masing memiliki segmen pasar berbeda, terutama kendaraan performa tinggi yang masih mengandalkan baterai kaya nikel.

Investasi Besar untuk Hilirisasi

Vale Indonesia, salah satu perusahaan tambang tertua di Tanah Air yang berdiri sejak 1968, sedang menginvestasikan sekitar 9 miliar dolar AS untuk membangun tiga proyek hilirisasi utama. Proyek-proyek ini dirancang untuk menghasilkan bahan baku penting bagi baterai kendaraan listrik, dengan fokus utama pada pembangunan fasilitas pengolahan high-pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Perusahaan ini kini berada di bawah kendali holding BUMN pertambangan Mind ID yang memiliki sekitar 34 persen saham setelah proses divestasi. Sementara itu, Vale Canada memegang sekitar 33,9 persen saham dan Sumitomo Metal Mining sekitar 11,5 persen. Struktur kepemilikan ini mencerminkan kolaborasi internasional dalam pengembangan industri nikel Indonesia.

Langkah agresif Vale dilakukan di tengah meningkatnya popularitas baterai berbasis lithium yang lebih murah dan dianggap lebih aman, khususnya di pasar Tiongkok. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan baterai jenis ini kini menguasai hampir setengah pasar baterai kendaraan listrik global. Permintaan global untuk baterai EV dan penyimpanan energi diperkirakan akan mendorong nilai pasar mencapai 160,3 miliar dolar AS pada 2030, dengan produsen mobil besar seperti BYD, Tesla, dan Ford turut mengadopsi teknologi tersebut.

Peran Strategis Indonesia di Pasar Global

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, menjadikannya pemain kunci dalam rantai pasok baterai global. Pemerintah sejak 2020 melarang ekspor bijih nikel mentah guna mendorong pengolahan di dalam negeri serta menarik investasi asing. Kebijakan ini bertujuan menjadikan Indonesia bukan hanya pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen baterai dan kendaraan listrik.

Selama puluhan tahun, Vale Indonesia dikenal sebagai produsen nikel matte — produk antara berkualitas tinggi yang terutama digunakan untuk industri baja tahan karat. Operasi perusahaan tersebar di lebih dari 118.000 hektare lahan di Pulau Sulawesi, menjadikannya salah satu pemegang konsesi nikel terbesar di Indonesia.

Di fasilitas Sorowako, Sulawesi Selatan, perusahaan secara historis memproduksi sekitar 70.000 ton nikel matte per tahun. Seluruh produksi ini diekspor ke Jepang melalui kontrak jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining dan Vale Japan. Namun kini, seiring meningkatnya permintaan bahan baku baterai, perusahaan mulai menggeser fokus ke produk bernilai tambah lebih tinggi.

Proyek Pomalaa dan Bahodopi

Lokasi Pomalaa menjadi pusat strategi baterai Vale. Di sana sedang dibangun pabrik senilai 4,5 miliar dolar AS bekerja sama dengan produsen mobil Amerika Serikat Ford dan perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt. Proyek ini juga menandai investasi langsung pertama Ford di Indonesia.

Pabrik tersebut dirancang untuk mengolah bijih nikel jenis limonit — bijih berkadar rendah yang digunakan sebagai bahan utama produksi material baterai EV. Sementara bijih saprolit berkadar lebih tinggi tetap akan dimanfaatkan untuk menghasilkan nikel matte.

Setelah beroperasi penuh, fasilitas Pomalaa ditargetkan mampu memproduksi sekitar 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, bahan antara penting untuk pembuatan katoda baterai. Operasi komersialnya dijadwalkan dimulai pada kuartal keempat 2026.

Selain itu, proyek Bahodopi di Sulawesi Tengah juga sedang dikembangkan dengan investasi sekitar 2 miliar dolar AS. Fasilitas HPAL di sana dirancang untuk mengolah 10,4 juta ton bijih limonit setiap tahun dan menghasilkan sekitar 66.000 ton MHP kelas baterai.

Ashar menekankan bahwa proyek baterai tidak menggantikan produksi nikel matte, melainkan melengkapinya. Menurutnya, operasi tambang di masa depan dapat menghasilkan dua produk sekaligus secara lebih efisien dengan mengekstraksi lapisan bijih berkadar tinggi dan rendah secara bersamaan.

Tantangan Pasar dan Kebijakan Produksi

Pemerintah Indonesia berencana memperketat pasokan nikel pada 2026 guna menjaga stabilitas harga global. Produksi di lokasi Pomalaa dan Bahodopi akan dibatasi hingga 30 persen sesuai kuota pemerintah, sementara produksi nikel matte di Sorowako tetap berjalan penuh.

Pembatasan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk menyeimbangkan suplai dan mendukung harga. Meski demikian, Vale melihat tanda-tanda pemulihan pasar. Perusahaan menargetkan produksi 71.234 ton pada 2025, dan hingga November telah menghasilkan 66.848 ton, meningkat sekitar 3 persen dibanding tahun sebelumnya. Data akhir tahun belum dirilis, tetapi perusahaan menyatakan produksi melampaui ekspektasi.

Harga nikel sendiri sempat stagnan sepanjang sebagian besar 2025 sebelum melonjak tajam pada Desember akibat ekspektasi pengetatan pasokan. Harga kontrak berjangka nikel di London Metal Exchange tercatat sekitar 16.784 dolar AS per ton pada awal Februari setelah kenaikan lebih dari 12 persen pada Desember — kenaikan bulanan terbesar sejak April 2024.

Analis dari Macquarie memperkirakan Indonesia akan terus menyesuaikan kebijakan produksi untuk menjaga harga nikel di kisaran 18.000 dolar AS per ton. Mereka bahkan menaikkan proyeksi harga rata-rata nikel tahun 2026 menjadi 17.750 dolar AS per ton, naik dari perkiraan sebelumnya 15.000 dolar.

Masa Depan Nikel di Era Elektrifikasi

Langkah Vale Indonesia memperluas bisnis ke bahan baterai menunjukkan bahwa nikel masih memiliki prospek cerah di era elektrifikasi global. Meski baterai berbasis lithium semakin dominan, kebutuhan kendaraan listrik berperforma tinggi dan sistem penyimpanan energi skala besar diyakini tetap memerlukan material berbasis nikel.

Transformasi ini juga menegaskan peran strategis Indonesia dalam industri energi masa depan. Dengan cadangan nikel melimpah dan kebijakan hilirisasi yang agresif, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi baterai dunia. Bagi Vale Indonesia, investasi besar hari ini merupakan taruhan jangka panjang bahwa nikel tetap menjadi komoditas kunci dalam revolusi kendaraan listrik global. Tuna55

Leave a Reply